Jangan teriakkan pekik klise ”Maju terus, pantang mundur” di depan atlet dayung, khususnya yang berlomba di nomor-nomor rowing. Semboyan itu tak bakal laku. Bagi mereka, ”Maju tak gentar” adalah cara konyol jadi pecundang. Cara terbaik untuk menang justru ”Secepatnya mundur teratur”.
Anekdot itu disampaikan kepala pelatih tim pelatnas perahu naga, Muhammad Suryadi, di markas tim nasional dayung yang terletak dalam kompleks Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jabar. Pasalnya, posisi atlet rowing dalam perahu selalu menghadap buritan. Praktis mereka berlomba adu cepat dengan mengayuh perahu mundur, meski tetap ke depan.
Suasana ceria memang terus memayungi pelaksanaan pelatnas dayung saat dikunjungi, Sabtu (19/2). Rupanya sukses perahu naga meraup tiga dari empat perolehan medali emas Indonesia di Asian Games 2010 masih terus memayungi hati tim dayung.
Atmosfer optimistis terasa sejak masih terang tanah, saat para atlet mencicipi makanan pembuka di kompleks penginapan, sekitar pukul 05.00. ”Selamat pagi.” Begitu setiap atlet yang berpapasan menyapa. Kata-kata mereka jelas, bahasa tubuh cergas, senyum tersungging tegas. Mereka pun menghabiskan roti dengan bergegas.
Penyebabnya, berkelompok-kelompok mereka harus berlari menuruni bukit sejauh 1,1 kilometer untuk mencapai tepi waduk, tempat para pelatih menunggu. Bahkan, rombongan atlet perahu naga turun bukit sambil memegang dayung dan mengumandangkan lagu-lagu mars, layaknya tentara maju ke medan perang.
”Saya datang untuk menolong kalian dan kalian terlambat lima menit. Jangan lagi telat,” sembur pelatih rowing asal Belanda, Drederk de Boorder, menyambut mereka. Waktu masih menunjuukan pukul 05.45.
Seusai pemanasan, para atlet rowing menurunkan perahu dari gudang. Permukaan waduk langsung penuh dengan perahu-perahu kecil. Apalagi, atlet kano dan kayak juga tengah menjalani evaluasi kecabangan. Sementara itu, atlet rowing harus menempuh jarak 14 kilometer untuk berlatih metode bagian (maksudnya, mendayung hanya dengan tangan, lanjut dengan ayunan tangan dan badan, dan seterusnya). Adapun dua tim perahu naga pamer kekuatan, adu cepat tanpa baju di badan. ”Mereka pakai jaket kulit,” kata Suryadi, mengomentari tubuh-tubuh berotot atletnya.
Menyenangkan melihat kebersamaan 169 pendayung perahu naga, rowing, kayak, dan kano itu. ”Ya, kami merasakan suasana kekeluargaan yang kompak di sini,” ujar atlet dayung, Silo.
Meski begitu, para atlet sadar persaingan. Mereka belum tentu terpilih ke SEA Games. Saat ini, para veteran Asian Games dan pendayung kawakan masih digabung dengan pemenang kejurnas untuk berebut tempat di tim. ”Saya harus bisa menunjukkan prestasi yang lebih baik dari teman-teman baru hasil kejurnas,” ujar atlet asal Papua, Sarce Aronggear, yang berambisi mengulangi hasil emas yang dicapai di SEA Games 2007.
Pada SEA Games di Jakarta dan Sumatera Selatan nanti, dayung menetapkan target tinggi. Rowing dihitung mampu meraup delapan emas, lainnya tujuh. Sejauh ini, nomor lomba yang diusulkan ada 30 hingga 32. ”Saat saya sampaikan itu, saya dibilang, 'mimpi kamu?'” kata Suryadi. Baiklah. Selamat mengejar mimpi. (HLN/YNS)
Sumber : Kompas.com





0 komentar:
Poskan Komentar