Sabtu, April 16, 2011

ATLET DAYUNG INDONESIA YANG TERABAIKAN

Ratusan Medali Menjadi Bukti Nyata, Sayangnya Kini Menjadi Papalele Ikan

DUA orang atlit dayung asal Buton Utara yang perna mengharumkan nama Indonesia di level internasional, Hatimin dan Justin, kini menjadi pembudi daya rumput laut dan papalele (makelar) ikan. Ratusan medali yang diraih dalam setiap iven tidak sebanding dengan perhatian yang mereka dapatkan.

HATIMIN, mantan pendayung nasional yang memulai karir profesionalnya tahun 1991 mengatakan, sebagai atlit dayung nasional perna mewakilih Indonesia di ajang kejuaraan Asean, Asia, maupun dunia. Dari sejumlah iven yang dia ikuti, selalu menyumbangkan medali emas, perak, dan perunggu.

Bahkan, saking banyaknya medali emas yang didapat Hatimin di nomor kayak satu, dua, dan empat serta dragon boat (perahu naga), hingga dia tidak mengingat lagi jumlahnya. Namun yang pasti, kata dia, ada sekitar 100 medali yang didapat untuk semua iven, baik itu level nasional maupun internasional.


Lantas dia menyebutkan, karir profesionalnya dimulai tahun 1991 pada Kejurnas dayung di Kalimantan Tengah. Ketika itu, Hatimin hanya meraih perak di nomor kayak perseorangan, sedangkan medali emas diraih tuan rumah. Selanjutnya, dia mengikuti seleksi nasional di Jatiluhur untuk persiapan kejuaraan Asia di Japan yang hasilnya membawa pulang medali perunggu.

Dikatakan, pada Kejurnas di Sumatera Barat 1992, Hatimin meraih dua medali emas, di nomor kayak satu dan empat. Begitu pula dengan PON di Jatiluhur tahun 1993, ia mendapat dua medali emas di nomor kayak satu dan empat. Pada Kejurnas dayung di Makassar 1994, Hatimin kembali menyumbangkan dua medali emas di nomor kayak satu dan dua.

Prestasi Hatimin terus meroket, bahkan pada Sea Games di Thailand tahun 1995 kontingen Indonesia yang turun di nomor dragon boat berhasil menyabet tiga emas. Begitupun dengan kejuaraan Asia Tenggara (Tray Out) di Singapura, tim dayung putri naga Indonesia menyabet dua medali emas.

"Enam kali kami ke Singapura, tidak perna dapat perak dan perunggu, tapi semuanya medali emas," ujarnya.

Lanjut dia, pada kejuaraan Asia di Hongkong tahun 1996, kontingen Indonesia menyabet empat medali emas di nomor 250, 500, 750, dan 1000 meter. Di tahun yang sama kejuaraan dunia dayung naga di Hongkong, kontingen Indonesia kembali menyabet lima medali emas di empat nomor berbeda.

"Pada PON di Surabaya tahun 1996, saya membawa nama Sultra. Waktu itu kami dapat dua emas di nomor kayak dua dan empat," pungkasnya.

Tahun 1997 Sea Games di Indonesia, Hatimin, turun di nomor kayak perseorangan dan berhasil menyabet medali emas. Sedangkan di nomor perahu tradisional, kata dia, kontingen Indonesia menumbang empat emas dan satu perak di nomor 500 meter.

Kata dia, kontingen Indonesia kembali meraih satu medali emas di kejuaran dayung tradisional di Taiwan tahun 1998. Sedangkan, kejuaraan dunia dragon boat yang dilaksanakan di Darwin Australia, kontingen Indonesia hanya meraih medali perunggu.

"Pada Sea Games di Brunai
Tahun 1999 kami dapat satu emas dan dua perak. Di Cina juga kejuaraan perahu naga dapat satu emas di nomor 1000 meter," tandasnya.

Selanjutnya tahun 2000 PON di Palembang, Hatimin menyumbang satu emas dan perak di nomor kayak dua. Sedangkan pada Porda yang dilaksanakan di Muna tahun 2007, semua medali emas disikat habis. "Waktu itu kita bawakan kontingen Muna," katanya.

Diantara semua iven yang perna dia ikuti, yang paling berkesan adalah Sea Games di Thailand. Dimana, kontingen Indonesia sampai hari kelima belum mendapatkan medali emas, nanti lomba dayung tradisional.

"Waktu itu kontingen Indonesia sampai hari kelima belum ada yang dapat emas. Sehingga harapan tertuju kepada kami untuk menyumbangkan medali emas pertama. Waktu bendera merah putih berkibar, saya melihat Pak Wismoyo Aris Munandar turun air matanya. Kami sangat terharu sekali, karena emas pertama ini bisa mengacu semangat teman-teman kami yang masih berjuang," tandas Wanita berkulit gelap ini.

Untuk kelas kayak perseorangan, Hatimin merajai kelas ini selama 11 tahun di tingkat nasional. Dia mengaku, bonus yang didapat dari pemerintah berkisar Rp 10- Rp 15 juta. Uang tersebut dipergunakan untuk biaya berobat ibunya yang sakit dan membangun rumah berukuran 11x8 meter.

Semua prestasi itu, kata dia, tinggal kenangan manis yang tak bisa dilupakan. Hatimin sekarang berbeda dengan Hatimin sewaktu masih menjadi atlit. Sekarang dia harus berjuang untuk mendapatkan uang dengan menjadi pembudidaya rumput laut di teluk Kulisusu.

Apakah siap menjadi pelati dayung di Butur? Hatimin menjelaskan selama pemerintah membutuhkan tenaganya, dia selalu siap. Apalagi Butur merupakan tanah kelahirannya.

"Kalau Pemda mau kita menjadi pelatih dayung, kami bersedia. Tapi fasilitasnya dulu disiapkan," ujarnya.

Dia berharap, kedepan ada generasi muda yang menjadi bibit untuk meneruskan nama baik Sultra di tingkat nasional. Dimana pendayungnya berasal dari Butur. Dan apa yang sudah dia torehkan selama 16 tahun mengharumkan nama Indonesia di mata dunia internasional, bisa mengetuk pemerintah untuk memberikan bantuan modal untuk usaha budi daya rumput lautnya.

Sementara itu, Jusmin mengatakan, pertama kali meniti karir profesionalnya pada tahun 1992, dimana dia dipercaya menjadi kontingen Sultra di cabang dayung nomor kayak dua dan empat pada Kejurnas di Sumatra Barat dan langsung mendapat dua medali emas.

"Pengalaman pertama saya Kerjurnas di Sumatra Barat. Waktu itu, kami dapat dua emas di nomor kayak dua dan empat," paparnya.

Disamping itu juga, kata wanita berambut pendek ini, dia mengikuti kejuaraan dunia dayung naga di Meuborne Australia. "Kontingen Indonesia hanya dapat medali perunggu. Bagaimana lokasinya banjir, teman-teman kami yang dari Jawa pada takut semuanya," jelasnya.

Wanita kelahiran 25 Desember 1972 ini menambahkan, pada kejuaraan dayung di Vietnam, dia hanya mendapat medali perunggu. Sedangkan di Cina pada kejuaraan Asia tahun 2003, kontingennya menyabet 9 medali emas.

"Di Hongkong sudah enam kali saya ikut kejuaraan dayung. Kami dapat 18 medali emas dari tahun 1997-1998," bebernya.

Diatanya, pernah ditawari menjadi pegawai? Justin menjelaskan, pernah dipanggil Gubernur Sultra, saat dijabat Kaimuddin, dia tawari untuk menjadi PNS. Namun, Justin menolak dengan alasan enggan memakai rok.

"Waktu itu saya ditawari untuk jadi pegawai, malah sampai tiga kali saya dipanggil. Tapi saya tolak, habis saya malu kalau pakai rok," tuturnya dengan sedikit tersenyum.

Lanjut dia, di masa Ali Mazi menjadi gubernur, Justin diberi hadiah rumah bertempat di BTN. Poasia yang saat ini di kontrakan. Namun sekarang dia tidak punya pencarian tetap, sehingga menjadi papalele ikan.

Saking banyaknya medali yang mereka terima, baik Justin maupun Hatimin, bingung untuk menyebutkan jumlahnya. Masalahnya, kedua wanita ini sudah pensiun tiga tahun yang lalu, tepatnya tahun 2007.

"Kalau semua medali yang kami dapat di semua iven, kira-kira berjumlah 100 medali," akuh ke duanya sambil menunjukan medali puluhan tumpukan medali emas.(***)


Sumber : Radar Buton (Laporan ISHARTO), BUTON UTARA


0 komentar:

SOUVENIR dan ACCESORRIES

1. T-Shirt
2. Miniatur Kayak
3. Gantungan Kunci

KOLOM IKLAN

FOR SALE / DIJUAL

Dijual Dayung Braca/Bracsa
Harga 6 jt (nego)
Model Biasa dan Sambung, Barang Import (Produk Asli)
Berminat Hub. 0812 77575 22

KAYAK
K-1 Fiber Rp. 9 jt
K-2 Fiber Rp. 13 jt
K-4 Fiber Rp. 22 jt

CANOE
C-1 Fiber Rp. 9 jt
C-2 Fiber Rp. 13 jt
Cano Polo Rp. 5 jt jt
Canoe Pantai/Dayung Untuk Rekreasi Rp. 7,5 jt

BAHAN CARBON
K-1 dan C-1 Rp. 22 jt
K-2 dan C-2 Rp. 27 jt
K-4 Rp. 47 jt


KAYAK-KANO model Tropical (bentuk seperti background blog ini)

Cocok digunakan untuk diarus tenang, laut, susur pantai, wisata mangrove, dan juga latihan Eskimo Roll.

Harga/Price
Single/Tunggal Rp. 5,5 jt
Double/Ganda Rp. 6,5 jt

KAYAK-KANO model otosport
Single/Tunggal Rp. 6,5 jt
Double/Ganda Rp. 7,5 jt

Harga KAYAK dan CANOE sewaktu-waktu dapat berubah, tidak termasuk dayung, bonus lifejacket (pelampung) dan belum termasuk biaya pengiriman.

KAYAK FREESTYLE (SLALOM) Harga Rp. 15 juta (belum termasuk biaya pengiriman)

Berminat Hub. 0812 77575 22

PENGUNJUNG

KAYAKING TOUR / WISATA BAHARI

KAYAKING TOUR
1. Tanjungpinang - Pulau Penyengat
2. Tanjungpinang - Dompak
3. Tanjungpinang - Sibauk/Madung

WISATA MANGROVE
Keliling Pulau Senggarang

Pengurus HIPKA

SUSUNAN PENGURUS HIMPUNAN PENCINTA OLAHRAGA KAYAK KANO
KOTA TANJUNGPINANG

Pembina : Abu Mansyur, S.Sos,
Ketua Umum : Herry Emilza, SKom
Sekretaris : Bayu Wicaksono
Bendahara : Lulu Desnawati Ely
Kesekretariatan : Yulianda
Perlengkapan : Pandri Jaya
Operasional : Risdian Ahmad Mattuhanda
Seksi Canoeing : Syamsul Bahri
Seksi Rowing : T a s m a n
Seksi Perahu Naga (Dragon Boat) : Ilham Wahyudi
Pelatihan : Azwardi Ely
Humas : Hendy Syahputra,
Roni Paslah